WELCOME to the Dance Floor of bluePen - Let me be your ARmS to hug You with My ARtS

Pages

Saturday, December 21, 2013

SO???


Kapan Lagi?
(Oleh : Atho’ R.M Sasmito)

            PERTAMA Kali aku menjadi mahasiswa, aku benar-benar merasakan sesuatu yang berbeda daripada sewaktu aku masih duduk di bangku SMK. Salah satu faktornya mungkin dulu sewaktu di SMK, hampir semua siswa adalah cowok. Cewek yang sekolah di tempatku dulu hanya 3 anak yang mengambil jurusan otomotif. Mungkin karena dulu krisis cewek, ketika masuk kuliah membuatku shock banyak cewek-cewek apalagi dandannya cantik-cantik, benar-benar shock. Faktor itu mungkin hanya sedikit persentasenya yang membuatku kaget menjadi mahasiswa.

            Faktor selain cewek, dulu aku sewaktu sekolah mengambil jurusan otomotif, kemudian setelah lulus, ikut belajar las karbit selama 7 minggu, setelah itu menjadi mahasiswa aku memilih jurusan bahasa inggris. Sama sekali nggak ada yang nyambung dari jurusanku sebelumnya. Dan di sinilah aku benar-benar merasakan labilnya diriku untuk menemukan jatidiriku sebenarnya.

            Berasal dari jurusan otomotif dari SMK yang didominasi oleh cowok, mungkin karena aku rajin, sehingga nilaiku lebih baik daripada teman-temanku yang lain, apalagi ketika pelajaran Bahasa Inggris, kalau boleh sombong nilaiku tak terkejar oleh teman-teman yang lain karena paling aktif di kelas.

            Namun kondisi berbeda ketika aku menjadi mahasiswa dengan kePeDeanku mengambil jurusan Bahasa Inggris karena memang suka dan nilaiku lebih baik dari teman-temanku SMK. Selama satu semester, aku benar-benar merasa shock akan persaingan teman-teman kuliahku satu ruang. Mereka begitu ringan untuk angkat tangan dan beranjak dan  berdiri di depan kelas sambil cap cip cus ngecuprus pakai Bahasa Inggris. Aku hanya menggeleng-geleng kepala melihat aksi teman-temanku yang berebut untuk mendapat nilai paling baik dengan selalu angkat tangan untuk menjawab pertanyaan atau maju untuk presentasi.

            Memang harus aku akui, dalam satu kelas berasal dari berbagai sekolah baik dari kota maupun luar kota tempatku kuliah. Dan rata-rata dari mereka yang sering maju berasal darI SMA-SMA unggulan atau mereka rata-rata sudah berpengalaman, bahkan tidak sedikit yang sudah mengajar di sekolah-sekolah. Dibandingkan dengan diriku???

            Boleh dibilang, di dalam kelas aku salah satu mahasiswa yang paling muda, meskipun usia rata-rata hampir sama di atasku. Aku lulus dari bangku SMK pada saat usiaku 17 tahun, dan usia itu langsung masuk di perguruan tinggi. Kalau dihitung-hitung, aku mendapat gelar S.Pd di usia 21 tahun. Menurutku itu usia sangat muda menjadi sarjana.

            Entah adakah kaitannya antara aku yang paling muda di dalam kelas, dibandingkan dengan teman-temanku yang rata-rata di atasku dan sudah banyak yang berpengalaman, apalagi background sekolah asal,  membuatku berpikir untuk membandingkan bahwa seperti anak kecil. Di dalam kelas mereka sudah bisa berjalan bahkan berlari kencang, sedangkan aku masih ngesot dan belajar untuk berdiri agar dapat berjalan.

            Hasil belajar yang dibuktikan dengan kartu hasil belajar (KHS) membuktikan, nilai IP ku di semester satu hanya 2,90, dengan huruf yang tertulis indah dari atas sampai bawah adalah C.

            Aku tidak menyalahkan nilaiku mendapat C, karena memang kenyataannya seperti itu. Selama satu semester, aku hanya bisa puas menyaksikan teman-temanku berebut untuk unjuk gigi demi mendapatkan nilai yang memuaskan.

            Selama satu semester, aku hanya duduk manis tanpa mampu menggeser bokongku untuk maju seperti teman-temanku. Mendapati hal itu, aku bukan hanya sekadar duduk manis, santai tanpa mau merubah diri.

            Memasuki semester 2, aku mulai berusaha menunjukkan diriku. Aku mencoba menghibur diriku, cukuplah sudah pertunjukkan dari mereka. Dengan mereka maju, aku mempunyai ukuran tingkatan atau rangking untuk diriku sendiri. Siapa saja urutan mereka 10 besar dari yang nomor 10 sampai yang terbaik di kelas. Setelah mendapatkan urutan untukku sendiri, aku mulai motivasi untuk mendesak urutan terbaik itu, dan itu harus aku mulai di semester 2, sebelum aku menyesal selamanya.

            Memang berat aku rasakan untuk memulainya. Aku mulai mempersiapkan diri untuk maju, saat itu ada sebuah tugas speaking dengan tema yang sudah ditentukan untuk dipilih.

            Aku memilih tema tentang banjir yang terjadi di kota ini, dengan sumber dari koran Bahasa Inggris.

            Hampir setiap malam aku berusaha menjadi orang gila dengan berbicara sendiri di depan cermin, untuk menghafalkan teks Bahasa Inggris yang ingin aku pakai untuk presentasi.

            Di kesempatan pertama, seperti biasa mereka yang aktif berebut untuk maju angkat tangan untuk unjuk gigi. Aku menjadi ragu untuk menunjukkan diriku. Sampai jam kuliah selesai, aku terpaksa menghela nafas panjang karena nggak berani maju. Biarlah mereka yang biasa maju duluan untuk mendapatkan nilai.

            Di minggu ke dua masih sama, hampir setiap malam aku berusaha menghafal teks untuk presentasi. Di pertemuan ke dua, sebagian dari mereka yang biasa aktif di kelas tinggal setengahnya yang belum maju. Ketika yang aktif sudah maju semua, dosen memberi kesempatan untuk 2 sampai 3 mahasiswa lagi maju, karena waktunya masih panjang.

            Dalam kesempatan itu, dadaku terasa bergemuruh untuk angkat tangan dan berdiri. Namun terasa diri ini bagaikan beku tak bisa bergerak. Sampai waktunya habis tak ada lagi mahasiswa yang maju. Begitu pun juga aku tak bisa bergerak sama sekali.

            Di kesempatan ke tiga, beberapa mahasiswa yang belum pernah maju berusaha untuk menunjukkan dirinya, meskipun memang masih tampak gagap dan gemetar di depan kelas. Di kesempatan itu hanya ada dua mahasiswa yang berani maju, sedangkan waktu masih lama. Dan dosen pun memberikan kesempatan untuk yang belum pernah maju untuk presentasi. Namun sepetinya sudah tak ada lagi mahasiswa yang ingin maju. Selama waktu diberikan, dosen tak henti-hentinya memberikan motivasi, atau juga bagaimana cara speaking. Meskipun begitu, ketika bertanya siapa yang mau maju, suasana kelas menjadi sepi seperti kuburan.

            Ketika waktu sudah semakin habis, Dadaku serasa bergemuruh, keiginanku menggebu-gebu ingin angkat tangan dan maju. Namun badan ini terasa berat untuk digerakkan, sekalipun itu tanganku. Kekhawatiran dan ketakutan kalau seandainya gagal dalam presentasi, malu, dan keraguan-keraguan semakin membuatku berat untuk maju.

            Namun hati kecil ini seperti memberikan kekuatan yang besar. Mau sampai kapan seperti ini? Menjadi seperti pecundang yang hanya puas menyaksikan kehebatan dan kesuksesan teman-teman, mungkin sampai lulus dan menjadi sarjana akan tetap seperti ini, tak akan pernah berubah, mau jadi apa nantinya setelah wisuda? Kala tidak dimulai dari sekarang, mau sampai kapan akan begini terus?

            Di tengah kesunyian di dalam kelas yang berisi kurang lebih sampai 100 mahasiswa ini, dengan sekuat tenaga tangan kanan terangkat dan memecahkan kesunyian. Ketika berdiri, suara tepuk tangan bergemuruh di dalam kelas.

            Dalam perjalanan maju di depan kelas, semua mata tertuju kepadaku. Mungkin banyak yang heran dan bertanya, siapa aku? Sejak kapan aku ada di kelas mereka? Apakah aku memang di kelas itu? Dan mungkin banyak pertanyaan dari tatapan mereka. Karena memang aku lebih sering duduk di bangku belakang tanpa pernah sekalipun maju dan memang aku merasa diriku sangatlah cupu.

            Ketika aku berdiri di depan kelas, dosen memintaku untuk memperkenalkan diri dan mulai presentasi.

            Aku berdiri mematung di depan kelas. Aku lihat wajah-wajah di depanku yang menanti kalimat keluar dari bibirku. Keringat dingin mulai membasahi dahiku. Aku mencoba mengangkat kertas referensiku. Aku lihat tanganku bergetar hebat. Mulutku seakan terkunci rapat dan sulit untuk dibuka. Dosen memperhatikan aku, aku melirik ke arahnya. Ku hela nafas panjang dan mencoba mulai membuka mulutku.

            “Good afternoon guys, let me introduce my self, my name is....”

            “Can you luoud your voice please,” pinta dosen

            Suaraku memang kecil dan seperti bergumam ketika presentasi itu sehingga dosen memintaku untuk mengeraskan suaraku.

            Aku menambah volume suaraku, mencoba mengeluarkan kata-kata yang sudah lebih dari 2 minggu aku hafalkan di depan cermin, bahkan aku rekam di handphone.

            Rasa nervous, sekujur badan gemetar, tangan gemetar memegang kertas, suara nggak jelas hafalan juga hilang.

            Selama presentasi aku hanya berani menatap langit-langit kelas sambil terus ngomong, entah ngomong apa, aku sendiri juga nggak paham, yang penting ngomong.

            Ketika aku anggap cukup, aku akhiri presentasiku.

            “Ok Guys, I think enough about my presentation..”

            Aku pun kembali ke tempat dudukku dengan baju yang basah oleh keringat, aku hela nafas panjang.

            Dosen pun memberikan komentar tentang presentasiku. Ternyata memang jauh dari standar presentasi yang seharusnya.

            “In the end of presentation, you can say “Thats all” to Close your presentataion,” pesan dosen.

            Huft. Masih saja deg-degan dan gemetar setelah presentasi pertamaku.

            Setelah presentasiku itu, salah satu mahasiswa cewek pinjam referensiku dan maju ke depan kelas. Ia mungkin pertemuan sebelumnya nggak masuk, tapi ia ingin maju, makanya ia pinjam kertasku.

            Dan aku semakin malu, ketika ia begitu lancar mempresentasikan referensiku di depan kelas, bahkan ia berbincang-bincang dengan dosen sangat lancar. Namun aku berusaha menghibur diri, karena memang ia lebih tua dari aku dan juga selain kuliah, ia juga sibuk mengajar di lembaga kursus dan rumahnya sendiri. Sedangkan aku memangnya siapa?

            Semenjak presentasi pertamaku yang kacau balau dan galau itu, aku mulai belajar banyak hal, dan setiap saat aku selalu belajar lebih baik lagi. Setelah presentasi itu, aku mulai berani sering angkat tangan dan maju untuk presentasi, meskipun masih gagap-gagap, bahkan aku juga memberanikan untuk ikut speech contest (Next Story) walaupun aku hasilnya aku gagal, setidaknya aku pernah mengalahkan penyiar radio yang menjadi favoritku. Ia sudah jatuh ketika seleksi tulis, sedangkan aku masih ada kesempatan untuk berdiri di podium.

            Keinginan untuk belajar dan berubah menjadi motivasi untukku. Dan memang semenjak itu, aku menjadi lebih aktif di kelas, sampai dosen-dosen juga hafal aku gara-gara sering maju. Bahkan ketika teman-teman menganggap dosen yang mengajar nggak enak dan killer, namun bagiku malah sebaliknya, aku malah menikmatinya dan nilaiku juga lebih baik.

            Sampai ketika akhirnya aku harus terpisah dari teman-teman sejak semester awal karena perampingan kelas. Aku yang awalnya di kelas D, terdepak cowok sendiri dari kelas D yang terusir ke kelas F.
            Di kelas F inilah menjadi semakin menggila, karena rata-rata teman di kelas ini seperti aku yang dulu belum pernah maju di depan kelas. Sampai akhir di kelas F ini, aku menjadi paling aktif dan menguasai kelas.

            Dan Alhamdulillah perubahan dari yang dulunya cupu selalu duduk di belakang tanpa berani angkat tangan, menjadi paling aktif di kelas, duduk paling depan dan menguasai kelas, semua karena proses, keinginan untuk berubah menjadi lebih baik dan tak lupa juga berdoa.

            Mau sampai kapan tetap berada di kondisi yang sama?

            Kalau tidak segera dimulai dari sekarang, kapan lagi??

            Kalau tidak dari diri sendiri, siapa lagi??? (arms)
bluePen, 3000_31021122
#ditemani 14 lagu-lagunya Bang Haji

Wednesday, October 16, 2013

Belajar Bikin Opini

Pantaskah Pahlawan dengan Ijazah Palsu?

( Oleh: Atho’ R. M Sasmito )



PAHLAWAN Merupakan pejuang yang gagah berani atau orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Namun sebutan pahlawan untuk orang yang ada di masa sekarang bukanlah mereka yang berjuang melawan penjajah, tetapi adalah sosok yang biasa dibanggakan dengan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa, yaitu guru.

Namun banyaknya kasus pemalsuan ijazah yang dilakukan oleh guru untuk kepentingan sertifikasi beberapa waktu lalu yang berhasil diungkap oleh Panitia Pendidikan Latihan Profesi Guru (PLPG) Rayon 142 Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya (http://penakita.com), dan juga telah ditemukan oleh tim verifikasi dari Universitas dr Soetomo (Unitomo) Surabaya, yang menggunakan nama Unitomo untuk digunakan mendaftar PLPG di Rayon 114 Unesa (http://www.surabayapost.co.id) sangat bertolak belakang dengan profesi mulia yang seharusnya dilakukan oleh seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

Memang profesi menjadi guru yang mendapat status Pegawai Negeri Sipil (PNS) menjadi impian banyak guru, karena jaminan setiap bulan dan masa tua sudah pasti ada membuat banyak orang rela melakukan apa saja demi mendapatkannya, salah satunya dengan menggunakan ijazah palsu.

Seharusnya ada sanksi tegas kepada mereka yang telah terbukti menggunakan ijazah palsu itu untuk kepentingan sertifikasi guru. Amat sangat disayangkan seandainya kasus itu tidak terungkap atau oknumnya tak tertangkap. Proses untuk mendapatkan ijazah bukanlah sebuah cara yang sangat instan, mudah dan murah mendapatkannya.

Untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) harus ditempuh dengan menjadi mahasiswa selama 4 tahun, bergelut dengan waktu, tugas dan buku.  Kalau mau mengalkulasi pengorbanan yang dilakukan selama kurun waktu 4 tahun menjadi mahasiswa, pasti akan menemukan nominal yang sangat mengejutkan. Dan itu harganya sangat mahal dibandingkan dengan selembar kertas dan pengesahannya dengan memindahkan kuncir dalam prosesi wisuda, apalagi dibandingkan dengan ijazah palsu.

Acungan jempol patut untuk diberikan kepada Panitia PLPG Unipa dan Tim Verifikasi Unitomo yang berhasil mengungkap kasus ijazah palsu. Kalau melihat dari peranan guru, seorang guru bukan sekadar mengajarkan pelajaran kepada murid-muridnya, melainkan lebih dari itu. Yang patut disebut guru adalah mereka yang tak sekedar mengajar tetapi mereka yang mempunyai jiwa pendidik. Mengajar dan mendidik adalah dua kata yang memiliki makna yang berbeda. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesa (KBBI), mengajar berasal dari kata dasar ajar yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui, sedangkan mendidik dari kata didik yang maknanya adalah memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.

Tugas pokok dan fungsi (tupoksi) seorang guru bukan sekedar mengajar atau mentransfer ilmu pengetahuan yang ada di dalam buku kepada siswa. Namun lebih dari itu, tujuan dari pembelajaran adalah adanya perubahan dari tingkah laku dari peserta didik. Selain memberikan ilmu pengetahuan, seorang guru harus bisa mendidik dan menjadi contoh yang baik kepada anak didiknya.

Banyak ungkapan yang biasanya dilontarkan kepada guru-guru yang sudah mempunyai status sebagai PNS. Walaupun tidak semua guru PNS, namun banyak dikeluhkan bahwa kebanyakan mereka yang sudah PNS dalam mengajar seenak mereka sendiri, tanpa memikirkan hal-hal lain yang dibutuhkan oleh siswanya. Para guru tipe ini memandang terpenting mereka masuk kelas, menerangkan pelajaran, memberi tugas dan nilai, atau yang mungkin lebih parahnya, mereka hanya menyuruh siswanya untuk mempelajari sendiri materi dan mengerjakan soal-soal yang ada di dalam lembar kerja siswa (LKS) tanpa memberikan bimbingan. Dalihnya adalah sudah bukan waktunya lagi guru banyak membicarakan tentang teori dan sudah saatnya siswa yang lebih aktif mengemukakan teori-teori dan mengembangkannya sendiri. 

Istilahnya banyak yang menyebut kebanyakan guru yang PNS pedomannya mengajar atau tidak mengajar tetap dibayar. Walaupun tidak semua guru PNS, namun cara mengajar yang dirasakan siswa kebanyakan seperti itu.

Jika dibandingkan dengan guru swasta (honorer), keseriusan mereka dalam memberikan ilmu dan juga kedekatan dengan siswa di kelas sangat jauh berbeda. Kebanyakan guru yang masih honorer lebih serius dalam mengajar dan mendidik siswanya. Mereka bukan sekedar menerangkan ilmu dari dalam buku, namun mereka juga mencoba lebih mendalami tentang siswanya, terkadang mereka juga harus membuat inovasi-inovasi dalam memberikan pelajaran di dalam kelas agar lebih menarik, lebih mudah untuk dipahami dan juga lebih dekat dengan anak didiknya. 

Seorang guru harusnya menjadi inspirasi dan teladan bagi murid-muridnya. Jika menilik esensi dari seorang guru, masih pantaskah gelar pahlawan tanpa tanda jasa itu disandang olehnya, jika menggunakan ijazah palsu demi kepentingan sertifikasi? (arms)

bluePen, 943031020180
----------------------------------

Penulis adalah Pegiat Sekolah Menulis SEC, alumni IKIP PGRI Bojonegoro


Tuesday, October 15, 2013

FIKSIMINI#NU berkorban SAPI BUAT KORBAN

Sapi Buat Korban?
(Oleh : Atho' R.M Sasmito)

#MEJENG di bersama Sapi :D
      “AH! Siapa ini pagi-pagi sudah kirim Whats App? Nggak tahu kah sedang asyik menikmati libur panjang Idul Adha?” gumamku kesal sambil membuka handphone layar sentuh milikku.

                “Assalamualaikum,” sebuah pesan datangnya dari nomor yang aku simpan dengan nama Ustad Ali, seorang dai muda dan asyik dalam memberikan pengajian. Ia aku kenal dari sebuah pengajian dan sering kontak lewat sms atau juga telepon.

                “Waalaikumsalam, ada apa pak ustad, tumben pagi-pagi sudah sms?” balasku mulai tersenyum, karena yang WA adalah Ustad Ali.

                “Pagi-pagi udah rajin nih?”

                “Maksudnya pak ustad?”

                “Tuh, pagi-pagi udah update status FB, lagi mandiin sapi. Nggak sekalian ikut mandi? Hehehe”

                “Lhoh pak ustad kok tahu?”

                “Yaiyalah, ustad gaul gitu loh. Hehehe.”

                “Oh iya ya, pak ustad kan jadi teman FBku. Sudah pikun belum tua, hehehe. Iya Pak Ustad, mumpung liburan, pagi-pagi manjain Sapi, walaupun cuma sekedar mandiin biar lebih seger.”

                “Wah, bagus tuh, memang sapi yang mau dijadikan kurban seharusnya dimanjain dulu, agar lebih tenang dan ikhlas ketika disembelih. Hehehe.”

                “Lho, maksudnya pak ustad apa ya?”

                “Lho, bukannya sapimu itu besok akan kamu sembelih untuk korban?”

                “Aduuuuhh. Katanya ustad gaul, maksudnya Sapi tuh, motor sport yang bentuknya kayak sapi, di tangkinya ada stiker sapi. Motor itu aku kasih nama Sapi, pagi ini sedang aku cuci di depan rumah. Hehehe.” Aku tambahkan fotoku yang sedang mejeng bersama motorku.

                “Owalahhhh. Aku kira sapi buat korban. Hahaha.”

                “Wah, belum siap pak kalau ikut korban.”

                “Masak beli Sapi yang minumnya bensin aja sanggup, tapi sapi yang  makan rumput nggak mampu? Padahal mungkin Sapi besimu itu bisa dapat tiga sapi daging  lho, hehehe.”

                “Hehehe, jadi malu aku. Insya allah tahun depan ya pak. Besok juga siap berkorban kok, Sapiku ini siap mendistribusikan daging-daging korban, hehehe.”

                “Alhamdulillah.”
bluePen, 750031020141

Lomba Fiksi Mini NU Online :

Sunday, October 13, 2013

Membangun dengan Menulis, Kenalkan Bojonegoro Lewat Karya
(Oleh : Atho’ R.M Sasmito)

            JIKA Membahas tentang potensi yang ada di Kabupaten Bojonegoro, pasti banyak yang tertuju pada minyak, atau jika menilik dari potensi wisata, biasanya pada Khayangan Api, Waduk Pacal, Agrowisata Salak Wedi, sampai Bendung Gerak, sedangkan dari karya seni yaitu, kerajian gerabah di Malo, kerajinan kayu jati di Ngraho, atau juga beragam motif batik Jonegoroan. Tapi memang itulah potensi yang ada di Kabupaten Bojonegoro.

          Di balik beragamnya potensi yang dimiliki Bojonegoro, mungkin ada yang luput dari banyak perhatian. Yaitu adanya komunitas-komunitas menulis dan juga penulis-penulis asli Bojonegoro yang ingin membangun Bojonegoro melalui dunia literasi.

            Mungkin tak banyak diketahui, bahwa di Bojonegoro banyak komunitas penggerak literasi yang memiliki penulis-penulis asli Bojonegoro dan menerbitkan karya-karya, khususnya dalam bentuk buku. Di antaranya Sekolah Menulis SEC(SMS), Sindikat Baca, Sanggar Sastra Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB), Majalah Atas Angin, dan juga Forum Lingkar Pena (FLP) Bojonegoro. Belum lagi adanya jurnalis-jurnalis sekolah dan kampus yang semangat untuk berkarya lewat tulisan.


#BELAJAR Arti totalitas dalam berkarya, bersama Pak Djajus Pete
#DISKUSI Bersama penulis-penulis muda SMPN 2 Bojonegoro 

       Penulis-penulis Bojonegoro yang telah menerbitkan buku di antaranya adalah Pak Nanang Fahrudin (Membaca untuk Bojonegoro, Buku yang Membaca Buku, Lampu Merah Cap Indonesia), Pak Anas AG (Si Pandir dan Dongeng Angling Dharmo) Mbak Wina Bojonegoro (Korsakov), Pak Djajus Pete (Menerima Penghargaan Rancage tahun 2002 atas karyanya yang berjudul Kreteg Emas Jurang Gupit) Pak JFX Hoery (Ketua Sanggar Sastra PSJB, menerima Rancage 2004 atas karya dan Rancage 2013 atas jasa), Tim blokBojonegoro Media (Masjid Tanpa Kubah), dan masih banyak lagi penulis-penulis Bojonegoro dengan karya-karyanya. Dan sejauh pengamatan langsung di lapangan, untuk ke depannya akan banyak lagi karya-karya dalam bentuk buku yang akan diterbitkan oleh penulis-penulis dan calon penulis di Bojonegoro.


#KARYA Penulis-penulis Bojonegoro di salah satu etalase toko buku di Kota Ledre


            Dengan banyaknya penulis-penulis Bojonegoro, akan memberikan warna yang berbeda tentang Bojonegoro yang sudah identik dengan minyaknya. Melalui karya tulisnya dalam bentuk buku, juga akan ikut mengenalkan Kabupaten Bojonegoro.

           Namun jika membahas tentang hal tersebut, mungkin bisa menghasilkan tulisan yang tak cukup untuk postingan blog, mungkin bisa sampai menjadi sebuah buku.

        Untuk lebih memfokuskan pembahasan mengenai Membangun dengan Menulis, Mengenalkan Bojonegoro Lewat Karya, dengan tema utama adalah Potensi Lokal Bojonegoro, ada sebuah karya berbentuk novel dengan judul Sheraiser Bojonegoro.


#NOVEL Sheraiser Bojonegoro, tentang Fans Sherina Munaf

        Sheraiser Bojonegoro merupakan sebuah novel yang menceritakan tentang seorang fans yang menjadikan idolanya sebagai inspirasi dan motivasi dalam hidupnya. Untuk lebih jelasnya, mungkin bisa membaca resensinya terlebih dahulu di : http://bluepen-arms.blogspot.com/2013/10/fanatismemusik-motivasi-hidup-dan_7.html (Karena jika ditulis ulang, akan lebih memperpanjang tulisan dan berarti tulisan juga telah dipublikasikan)

          Intinya dari buku yang berjudul Sherasier Bojonegoro ini memiliki 2 obyek, yaitu Sheraiser dan Bojonegoro.

Pada tahun 2010 Sherina pernah mendapat gelar Ratu Twitter dari salah satu majalah musik terkemuka karena jumlah folllowersnya terbanyak nomor 3 di dunia. Dari banyaknya followers Sherina adalah para penggemar Sherina yang disebut dengan Sheraiser.

        Di berbagai daerah di Indonesia banyak Sheraiser yang membentuk sebuah komunitas dengan nama Sherina’s Fans Club (SFC), merupakan wadah bagi sesama penggemar Sherina untuk berbagi informasi, sharing bahkan membuat acara gathering berjumpa dengan idola, yaitu Sherina. Untuk sementara ini di Bojonegoro belum ada SFC, karena belum banyak diketahui siapa yang mengidolakan Sherina dan menyebutkan diri sebagai Sheraiser.



#SHERAISER Bojonegoro dengan Tandure Wis Sumilir, karya Pak JFX Hoery, Ketua Sanggar Sastra Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB)
           Obyek yang ke-2 yaitu Bojonegoro. Meskipun buku yang berjudul Sheraiser Bojonegoro sebuah novel fiksi, namun setting dan latar belakang yang digunakan dalam cerita memang disengaja dan benar-benar ada di Kabupaten Bojonegoro. Karena tujuan utama dari buku ini juga untuk mempromosikan Bumi Rajekwesi.

           Dalam mempromosikan Bojonegoro, di dalam buku ini diceritakan tentang daerah Sekar. Irwan seorang penyiar  Rainbow Star FM, radio terbesar di Bojonegoro (fiksi tak pernah salah) mendapat kabar dari salah satu pendengar tentang penerimaan gelombang 104,4 FM di daerah Sekar sudah lancar, kemudian Irwan menjelaskan langsung di On Air tentang daerah Sekar yang berada di selatan kabupaten, terdapat sebuah tempat yang disebut dengan Atas Angin karena bisa menikmati pemandangan luas terhampar di bawah seperti berada di atas angin, selain itu juga ada Sendang Semayan yang dipercaya penduduk memberikan berkah, cerita tentang pegunungan Kendeng dan juga kehidupan orang-orang di Sekar.

           Selain menceritakan dalam siaran, di dalam buku juga menyebutkan tempat-tempat yang menjadi objek wisata di Bojonegoro, dengan cara menceritakan tentang rangkaian lomba-lomba memperingati ulang tahun radio yang digelar di tempat-tempat tersebut.

           Sasaran pembaca dari buku Sheraiser Bojonegoro ini sebenarnya adalah mereka yang mengaku Sheraiser dan SheilaGank (Karena cerita di dalamnya mengisahkan tentang Sheraiser yang jatuh cinta dengan Penggemar Sheila on 7) yang tersebar di berbagai daerah di seluruh Indonesia.


#SHERINA Dengan Sheraiser dalam launching album Tuna 2013

           Dengan sasaran dari berbagai daerah tersebut, secara tidak langsung juga ikut mempromosikan tentang Kabupaten Bojonegoro ke daerah lain, karena bisa mengenal Kota Ledre dengan menikmati kisah di dalam buku ini.


#SYITA Hardiyanti Sheraiser Bogor dan Sherina Munaf,
mungkin saking senangnya sampai tidak menyadari bukunya terbalik.
           Buku Sheraiser Bojonegoro ini juga telah dikirimkan langsung kepada Sherina. Rencana ke depan jika mendapat rekomendasi khusus dari pemkab, siap untuk membuat proposal dan mengirimkan buku ini kepada Miles Production (Rumah produksi yang membuat film Petualangan Sherina, Ada Apa Dengan Cinta, Sang Pemimpi), karena banyak Sheraiser yang merindukan Sherina untuk bermain dalam film lagi, setelah lebih dari 12 tahun yang lalu mulai terkenal dengan membintangi film musikal Petualangan Sherina.


#TANDA Tangan Sherina untuk Novel Sheraiser Bojonegoro
            Jika memang ada jalan, kenapa tidak buku ini juga bisa menjadi film dengan Bojonegoro menjadi settingnya? Dan pastinya dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan, dan diawali dengan membaca karya ini terlebih dahulu.

            Mungkin tampak mengayal atau mimpi terlalu tinggi hanya dari sebuah buku itu. Tapi bukankah hidup berawal dari mimpi? Einstein pernah bilang, imajinasi itu lebih penting dari ilmu pengetahuan, Wright bersaudara juga berawal dari mengayal bisa menciptakan pesawat terbang, bahkan orang untuk membangun sebuah rumah juga berawal dari khayalan yang dikonsep dan dikerjakan sehingga benar-benar menjadi sebuah rumah. Dan buku Sheraiser Bojonegoro ini bukan lagi sebuah khayalan atau sekedar teori semata, tetapi sebuah wujud yang sudah melalui konsep dan siap dikembangkan lagi untuk konsep yang lebih dari sebuah buku. Karena Buku Sheraiser Bojonegoro ini untuk Sheraiser, SheilaGank, Sherina, Sheila on 7, Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur, dan buku ini dari Bojonegoro untuk Indonesia. (arms)


bluePen, 107531013102



#PENULIS adalah Owner bluePen Publishing, Ketua Umum Sekolah Menulis SEC (SMS) dan Manajer bB Organizer blokBojonegoro Media, yang tahun ini bersama Paguyuban Kange Yune Bojonegoro (PKYB) sukses menyelenggarakan Pemilihan Duta Wisata Kange Yune Bojonegoro 2013.

Sunday, October 6, 2013

RESENSI Novel Sheraiser Bojonegoro


Fanatisme, Musik, Motivasi Hidup dan Mempromosikan Kabupaten Bojonegoro Lewat  Karya Fiksi


#NOVEL Sheraiser Bojonegoro dan Sherina Munaf :D


Nama Buku                            : Sheraiser Bojonegoro
Penulis                                    : Atho’ R.M Sasmito
Penerbit                                  : bluePen Publishing, Agustus 2013
ISBN                                        : 978 – 602 – 14283 – 0 – 6
Jumlah Halaman                   : 136 Halaman
Harga                                       : Rp. 48.000 ( Khusus bulan September -
                                                    November, diskon 25 %, 
                                                    harga sewaktu-waktu bisa berubah)
Order                                       : bluepen.adm@gmail.com
Tentang Penulis
                   : http://bluepen-arms.blogspot.com/2013/07/raih-dan-rengkuh-kesempatan-yang-ada.html




             SHERAISER Bojonegoro merupakan karya pertama Atho’ R.M Sasmito (ARMS) yang berbentuk novel. Jika mendengar nama Arms, mungkin pasti akan banyak yang bertanya, siapa sih Arms? Bisa nuliskah Arms? Baguskah tulisannya? Apa sih karya-karyanya? Dan mungkin masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mempertanyakan tentang Arms.

Namun ketika mendengar nama Sherina Munaf, pasti sudah banyak yang kenal. Jika melayangkan ingatan di tahun 2000-an, akan teringat dengan film musikal Petualangan Sherina dan lagu anak-anak yang masih banyak diperdengarkan. Sherina yang mulai terkenal sejak bermain film di Petualangan Sherina, dan juga terkenal dengan penyanyi cilik ini sekarang sudah besar dan menjadi publik figur yang akhir-akhir ini sering muncul di berbagai media, baik media cetak maupun elektronik, juga sering perform dengan lagu-lagunya terbaru di on air maupun off air, serta membintangi beberapa iklan yang sering tampak di tv maupun media cetak.

Sherina pernah mendapatkan gelar ‘The Twitter Princess’ dari majalah musik terkemuka, karena jumlah followers-nya terbanyak nomor 3 di dunia (http://news.okezone.com/read/2010/05/08/33/330680/33/sherina-dinobatkan-jadi-ratu-twitter) . Dari banyaknya followers adalah mereka yang mengidolakan Sherina yang disebut dengan Sheraiser.

Sheraiser adalah sebutan untuk para penggemar Sherina. Sheraiser ini tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, bahkan juga ada di Hongkong dan Malaysia. Para fans Sherina atau Sheraiser ini biasanya saling mencari sesama Sheraiser di masing-masing daerah dan membentuk sebuah komunitas yang bernama Sherina’s Fans Club (SFC). Komunitas ini wadah atau tempatnya Sheraiser untuk berbagi informasi dan juga sharing mengenai idola mereka, atau juga untuk acara kumpul bareng berangkat untuk bertemu idola, bahkan juga menghadirkan idola dan mengundang Sheraiser dari SFC yang ada untuk silaturahmi.

           Di beberapa daerah di Indonesia sudah terbentuk SFC, di antaranya, SFC Surabaya, Malang, Jogja, Bandung, Jakarta dan daerah-daerah lainnya. Namun untuk wilayah Kabupaten Bojonegoro, belum banyak diketahui adanya para fans Sherina yang menyebut dirinya ak didominasi fans dari group band, misalnya Sahabat Noah Bojonegoro, My Geisha Bojonegoro, Kerabat Kota, Slanker, atau kelompok-kelompok fanatik musik yang bisa dilihat dari atribut-atribut yang dibawa saat ada konser musik di  Bojonegoro.

         Mengenai buku yang berjudul Sheraiser Bojonegoro ini, mengisahkan tentang seorang fans yang menjadikan idola sebagai inspirasi dan motivasi dalam hidupnya.


Irwan, seorang pelajar kelas 3 SMK yang bersiap-siap menghadapi UNAS, suatu hari mimpi bertemu dengan Sherina di tidur siangnya. Ketika ia bangun, ternyata ia berada di kamarnya, dan masih terdengar lagu Sherina dari radio usang yang selalu ia nyalakan setiap kali ada di rumah. Dari mimpi siang itu ia mulai teringat dengan mantan penyanyi cilik yang dulu pernah main film Petualangan Sherina.


#SOFT Launching Novel Sheraiser Bojonegoro Bersama Keluarga Sekolah Menulis SEC (SMS)
Rabu 2 Oktober 2013
 
Kemudian serangkaian cerita, ia selalu mendapatkan informasi atau sesuatu yang baru ia ketahui tentang Sherina. Mulai dari keterangan yang ia dapatkan dari kekasihnya, mendengarkan radio, hingga berita tentang Sherina yang ia dapat dari surat kabar.

Ketika ia menemukan berita dari koran tentang Sherina yang hadir di Surabaya, memberikan motivasi kepada siswa-siswa yang bersiap-siap menghadapi Unas. Dari berita itulah ia mulai banyak mengetahui tentang Sherina, bahwa ternyata Sherina masih seumuran dengannya dan sama-sama sedang bersiap-siap berjuang menghadapi unas.

Irwan menjadi Gila Sherina. Foto yang ada di koran ia gunting dan ia jadikan motivasi untuk lebih semangat belajar, di rumah ia selalu mendengarkan radio dan request lagu-lagunya Sherina hampir di semua radio yang ada di Bojonegoro.

Namun sayangnya ketika Irwan mulai Gila Sherina, ia sebelumnya sudah memiliki kekasih yang bisa dikatakan perfect, Rista. Kekasihnya tulus mencintai Irwan apa adanya, meskipun Irwan hanya naik sepeda mini warna merah yang selalu dipakai untuk ke sekolah maupun berkencan. Semenjak Irwan mulai Gila Sherina, kekasihnya mulai terabaikan dan jarang mendapatkan perhatian dari Irwan lagi, karena yang ada di pikiran Irwan hanya ada Sherina, sehingga hubungan dengan kekasihnya berakhir.

Setelah putus dengan Rista, Irwan semakin menggilai Sherina dan tak terlalu menyesali perpisahannya dengan Rista. Hingga suatu ketika Irwan perjalanan pulang sekolah, ia mendapat pesan bahwa Rista kecelakaan dan kondisinya kritis, butuh kehadiran Irwan karena selalu memanggil namanya. Namun Irwan menganggap itu hanya akal-akalan Rista saja untuk bisa bertemu, karena mereka memang lama tidak saling komunikasi lagi. Hingga saat benar-benar terakhir kepergian Rista, Irwan tak juga datang.

Setelah mengetahui kenyataannya, timbul penyesalan dalam diri Irwan yang membuatnya trauma untuk jatuh cinta, sehingga ia berjanji untuk tidak jatuh cinta lagi dan memasang standar tinggi, cewek yang menjadi kekasihnya minimal harus secantik dan semanis Sherina.

Pada saat Irwan berjuang dalam mengerjakan Unas, konsentrasinya kacau karena menjelang waktunya ujian ia menanggung beban pikiran karena penyesalannya terhadap Rista. Hingga akhirnya pada saat ujian, ia mengeluarkan foto Sherina yang ia gunting dari koran dan selalu ia bawa untuk memberikan motivasi. Gara-gara guntingan foto itu, hampir saja lembar jawaban Irwan disobek oleh pengawas ujian.

Setelah lulus sekolah Irwan melanjutkan kuliah dengan bekerja sebagai penyiar radio di Rainbow Star FM, salah satu radio terbesar di Bojonegoro (Cerita fiksi tak pernah salah), dan kegilaannya kepada Sherina tetap semakin menjadi.

Suatu hari ada seorang pendengar cewek yang bernama Mitha membantainya langsung di On Air. Mitha adalah seorang penggemar Sheila On 7 (SheilaGank) yang tidak terima karena setiap kali Irwan siaran, pasti selalu memutarkan lagu-lagunya Sherina, baik untuk backsound siaran maupun langsung lagu yang mengudara. Sebenarnya memang banyak yang komplain kepada Irwan karena terlalu menunjukkan identitasnya sebagai penggemar Sherina, namun baru Mitha yang berani membantai langsung dalam On Air.

Suatu hari di kampus, Irwan yang menjadi mahasiswa semester 5 meninggalkan perkuliahan statistik di kelas, demi mengikuti cewek yang cantik dan manisnya seperti Sherina. Irwan membuntuti dan pembicaraan cewek itu dengan temannya di kantin kampus. Ternyata cewek itu yang bernama Mitha, seorang SheilaGank yang membantainya waktu On Air. Irwan menjadi penasaran terhadap Mitha seorang ShielaGank yang mengidolakan Sheila on 7 khususnya Eross Candra.

            Pada saat Mitha kirim salam lewat SMS ke Rainbow Star Fm, Irwan mencatat nomornya untuk mengenal Mitha lebih jauh lagi.

            Janji Irwan untuk tidak jatuh cinta lagi akhirnya tergoyahkan sejak bertemu dengan Mitha. Sedangkan Mitha baru saja berpisah dengan kekasihnya karena dikhianati, dan ia menjadi sedikit trauma dengan yang namanya cowok. Dari rangkaian cerita akhirnya Irwan dekat dengan Mitha, dan Irwan memberanikan diri mengungkapkan perasaannya kepada Mitha.

            Mitha yang masih trauma dengan cowok, akhirnya memberikan syarat akan memberikan jawaban, kalau Irwan bisa membawanya bertemu dengan Sheila on 7, khususnya Eross Candra. Irwan yang sudah benar-benar dimabuk asmara oleh Mitha, dengan berat hati menerima syarat yang diberikan kepadanya.

            Nah, bagaimana cara Irwan untuk bisa mendapatkan jawaban dari Mitha, dan juga bisa bertemu dengan Idolanya??? Akan lebih menarik jika menikmati sendiri cerita yang ada di dalam buku Sheraiser Bojonegoro ini.


#DISKUSI Tentang Novel Sheraiser Bojonegoro di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) PintaR,
Pondok Pinang Bojonegoro



            Buku ini bukan sekedar ingin menceritakan tentang seorang fans yang menjadikan idolanya sebagai inspirasi dan motivasi dalam hidupnya, namun buku ini juga ada embel-embel Bojonegoro, kabupaten yang terkenal dengan kekayaan alam berupa minyak yang terkandung di dalam buminya. Melalui karya ini, secara tidak langsung juga ikut mempromosikan tentang Kabupaten Bojonegoro.

Meskipun cerita dalam buku ini hanya fiktif dan bisa dibilang konyol, namun setting yang dipakai benar-benar ada di Bumi Rajekwesi ini. Di antaranya seperti dalam cerita di Bab 20, Aku dan Rembulan, ketika ada salah satu pendengar yang menginformasikan bahwa penerimaan gelombang 104,4 Rainbow Star FM di daerah Sekar sangat jernih, kemudian Irwan juga mendeskripsikan secara langsung di On Air tentang daerah Sekar yang ada tempat bernama Atas Angin, ada juga Sendang Semayan, Gunung Kendeng dan juga kehidupan orang-orang di sana.


#NOVEL Sheraiser Bojonegoro, (Bukan)Gethuk Mbok Ndari, Sambel Gethuk,
 Kopi dan Peci.
Apa Hubungannya Coba??? :D

Selain menjelaskan di on air, dalam buku juga menceritakan tentang perayaan ulang tahun radio Rainbow Star FM mengadakan lomba-lomba yang digelar di tempat-tempat wisata yang ada di Bojonegoro.

Sasaran pembaca dari buku ini sebenarnya adalah mereka yang mengaku dirinya Sheraiser ataupun juga SheilaGank di berbagai daerah, karena buku ini bisa menjadi bagian dari diri mereka. Dengan sasaran pembaca buku memungkinkan dari berbagai daerah, secara tidak langsung juga ikut mempromosikan tentang Kabupaten Bojonegoro kepada daerah lain.

Namun kembali lagi di Bojonegoro, jika buku ini di Kota Ledre sendiri kurang mendapat apresiasi yang baik, bagaimana daerah lain bisa tertarik untuk membaca atau mengenal tentang Kabupaten Bojonegoro. Kembali lagi kepada ARMS. Siapa sih Arms? Bisa nuliskah Arms? Baguskah tulisannya? Apa sih karya-karyanya? Dan mungkin masih banyak lagi  pertanyaan -pertanyaan yang mempertanyakan tentang Arms.(arms)
bluePen,743231020140




#BEDAH Novel Sheraiser Bojonegoro dalam Arisan Buku Sindikat Baca,
Bojonegoro Sabtu 5 Oktober 2013

Sunday, September 15, 2013

Gethuk Mbok Ndari


Gethuk Mbok Ndari

#Jawa Pos, Radar Bojonegoro Minggu 15 September 2013

            SUDAH Menjadi kebiasaanku sejak masih duduk di kelas 2 SMP, pagi hari sarapan dengan gethuk, makanan terbuat dari singkong rebus yang ditumbuk halus dan disajikan dengan parutan kelapa dan sambal berupa serbuk, serta dibungkus daun pisang. Sampai sekarang aku duduk di bangku kuliah semester  5 pun hampir setiap pagi setia di tikungan jalan, menanti kedatangan Mbok Sundari atau yang biasa dipanggil Mbok Ndari, penjual gethuk.
            Entah kenapa sejak di bangku SMP itu ku suka sarapan gethuk. Tak peduli teman-temanku menakut-nakutiku kalau otakku bisa menjadi kempel seperti gethuk alias bodoh, karena setiap pagi sarapan gethuk. Tapi aku tidak merasakan yang dikatakan teman-temanku, justru di dalam kelas aku selalu masuk dalam peringkat 3 besar. Apa hubungannya kalau kebanyakan makan gethuk , bisa membuat otak kayak gethuk alias bodoh?
            Pagi ini aku masih menanti Mbok Ndari di tikungan jalan desa. Kalau biasanya Mbok Ndari lewat pada sekitar pukul enam, namun akhir-akhir ini sebelum mentari terbit ia sudah sampai tikungan. Untungnya beberapa waktu yang lalu ketika selepas subuh aku jogging keliling desa bertemu dengannya. Mbok Ndari mengatakan bahwa mulai saat itu ia jualan lebih pagi dari biasanya.
            “Iya Le, berangkat lebih pagi. Pekerjaan di rumah banyak, setiap pagi bapak juga siap menyeberangkan mbok, jadi pulangnya juga tidak terlalu siang, bisa menyelesaikan pekerjaan di rumah,” terang Mbok Ndari kala itu, sambil memarutkan kelapa di atas gethuk warna kuning yang sudah diiris-iriskannya di atas lembaran daun pisang.
            Sejak saat itu Mbok Ndari selalu lewat lebih pagi dari biasanya. Dan terpaksa aku juga harus rajin bangun pagi, agar aku tetap bisa makan gethuk yang selalu aku nikmati dari dulu setiap pagi. Tapi memang benar, sejak akhir-akhir ini aku menjadi lebih rajin. Bangun menjelang waktu subuh, selesai subuh aku gunakan untuk jogging keliling desa dan menanti Mbok Ndari di tikungan. Dari rutinitas pagiku itu, sepanjang hari selalu aku lalui dan kerjakan dengan semangat. Selayaknya aku harus berterima kasih kepada Mbok Ndari yang lewat lebih pagi.
            Mbok Ndari sudah berjualan gethuk sejak aku masih kecil. Ia pernah pangling denganku, lantaran dulu katanya waktu ibuku masih hidup, sejak kecil ibu selalu menggendongku menunggunya lewat untuk membeli gethuk, dan waktu kecil katanya aku paling suka gethuk yang banyak parutan kelapanya. Bahkan aku dulu katanya juga merengek-rengek ketika dilarang banyak makan parutan kelapa, karena ibu takut aku cacingan. Setelah ibu pergi, tak pernah ada yang mengajakku membeli gethuk. Dan waktu di bangku SMP itu kebetulan aku penasaran melihat wanita memakai jarik dan kemben seperti orang Jawa asli, di atas kepalanya ada tampah yang tampak nempel walau tanpa dipegangi, di atas pinggulnya ada keranjang yang terbuat dari anyaman bambu berisi daun-daun pisang yang digulung. Keranjang itu digendong dengan kain warna merah yang biasa digunakan untuk menggendong anak kecil, dan satu tangannya dipakai untuk menjinjing tas yang terbuat dari anyaman daun pandan.
            Ketika ia berjalan di sepanjang desa, aku mengikutinya dan mengamati apa yang ia lakukan. Ketika ia menyadari diikuti, akhirnya ia berhenti dan bertanya kepadaku. Dari situlah ia tahu bahwa sejak kecil aku selalu digendong ibu membeli gethuknya, dan ia pun memberikan gethuk kepadaku.
            Kalau aku ingat-ingat masa itu, kadang aku ingin tertawa sendiri. Rasa penasaran membuatku membuntuti Mbok Ndari yang berjualan gethuk, hingga akhirnya aku diberi sebungkus gethuk yang banyak parutan kelapa seperti waktu aku masih dalam gendongan.
            Pagi ini kabut seperti menutup desa. Di bawah lampu tepi jalan tikungan, aku masih menunggu Mbok Ndari. Rumah Mbok Ndari berada di seberang desaku. Setiap hari ia harus menyeberangi Sungai Bengawan Solo dengan dengan perahu suaminya yang biasa dipakai mencari ikan di bengawan. Ia biasa berjualan di sepanjang jalan desaku. Pembeli paling banyak biasanya dari petani yang juga berangkat ke sawah, setelah itu ia menuju ke SD di desaku, tidak sampai tengah hari sudah habis ia langsung pulang, di bengawan ia sudah dijemput suaminya untuk pulang. Tak bisa aku bayangkan jika aku sendiri yang menjalaninya. Setiap pagi buta sudah menyeberang Bengawan Solo, dingin dingin suasana pasti juga membuat merinding, apalagi aku juga paling takut kalau naik perahu.
            Di antara kabut pekat yang membungkus pagi, sosok yang aku tunggu akhirnya tiba. Di bawah sinar lampu di tikungan jalan desa, bayangan yang ada di dalam kabut mulai tampak jelas, Mbok Ndari dengan tampah, keranjang juga tas bawaannya. Ia pun menurunkan barang bawaannya seraya tersenyum kepadaku.
            “Sudah lama le, nunggu Mbok Ndari?” tanya Mbok Ndari sambil mengeluarkan parut kelapa dari tas dan juga daun dari keranjang bambu.
            “Lumayan Mbok, tumben agak lama baru muncul Mbok?”
            “Iya le, Mbok Ndari agak kurang sehat, tadi bangun tidur badan rasanya kayak habis digebugi, mungkin kecapekan” jawab Mbok Darmi sambil tersenyum. Aku pun membalas senyumannya.
            Memang pagi ini Mbok Ndari tidak seperti biasanya, matanya sayu dan wajahnya agak pucat, namun tangannya masih cekatan seperti biasa ketika mengiris gethuk di atas parut sebagai tatakannya.
            Setelah getuk ia iris-iris dan ditaruh di atas sobekan daun pisang, parut kelapa yang ia gunakan sebagai tatakan ia tegakkan dengan tangan kiri, dan tangan kanannya dengan lincah memarut kelapa yang sudah dibelah menjadi empat bagian yang biasa disebut dengan cikalan. Kemudian hasil parutan kelapa itu ia taburkan di atas irisan-irisan gethuk yang siap dibungkus dengan daun pisang itu. Sebelum membungkus gethuk itu ia juga menaburkan sambal khusus gethuk, yaitu berupa serbuk berwarna kuning kecokelatan seperti serbuk gergajian dari kayu. Gethuk itu memang lebih enak jika dimakan dengan taburan sambal serbuk itu, karena rasa sambal itu pedas, asin, manis serta gurih menjadi satu semakin membuat membuat gethuk terasa lezat.
            “Ini le, seperti biasa tow?” tanya Mbok Ndari tersenyum seraya memberikan gethuk yang sudah dibungkus daun pisang.
“Iya Mbok, sudah tahu kebiasaanku gitu kok,” jawabku seraya tersenyum. Aku pun menerima dan membayarnya.
            “Sregep tenan le, setiap pagi mesti sudah nungguin Mbok Ndari,” ujar Mbok Ndari sambil membereskan barang-barangnya dan siap-siap melanjutkan perjalanan.
            “Iya mbok, ya karena Mbok Ndari aku jadi tambah rajin bangun pagi dan semangat menjalani waktu sepanjang hari, terima kasih ya Mbok,” balasku dengan senyum.
            “Iya le, sama-sama,” balasnya juga tersenyum sambil menaikkan tampah di atas kepalanya.
            “Oh ya mbok, kalau kurang sehat kok masih dipaksakan jualan, bukan dipakai istirahat saja dulu tow mbok?”
            “Kalau mbok istirahat, kamu nggak sarapan gethuk nu le,” jawab Mbok Ndari dengan senyumannya yang khas.
            “Ya nggak apa-apa mbok, paling enggak jangan dipaksakan kalau mbok memang sakit, pakai istirahat dulu, kalau sudah pulih kan bisa jualan lagi. Dari pada dipaksakan malah lama sembuhnya,”
            “Iya le, nggak apa-apa, mbok sudah biasa kok. Mbok duluan ya,” pamit Mbok Ndari siap melanjutkan perjalanan.
            “Iya Mbok, terima kasih ya,”
            “Iya le, sama-sama,” jawab Mbok Ndari seraya melangkahkan kakinya.
            Beberapa saat kemudian bayangan Mbok Ndari sudah mulai menghilang di dalam pekatnya kabut pagi. Bungkusan gethuk dari Mbok Ndari tadi aku buka dan mulai aku nikmati sarapanku pagi ini.
            “Pagi-pagi sudah di tikungan, sarapan apa mas?” tanya Mbak Nah yang lewat sambil menuntun sepeda.
            Mbak Nah adalah seorang janda tetangga desaku yang bekerja sebagai buruh tani, dan setiap selesai subuh ia langsung berangkat untuk mencari nafkah menghidupi dua anaknya masih duduk di bangku sekolah dasar.
            “Ini mbak, sarapan gethuk Mbok Ndari, tadi kebetulan baru saja lewat,”
            “Mbok Ndari?” tanya Mbak Nah kaget dan menghampiri aku.
            “Iya, gethuk  Mbok Ndari yang dari seberang bengawan solo mbak,” jawabku masih menikmati gethuk yang tinggal beberapa iris.
            “Astagfirullahhaladzim! Mbok Ndari sudah meninggal dua minggu yang lalu bersama suaminya ketika nyebrang di bengawan. Perahunya terbalik dan mereka tenggelam terseret arus bengawan yang meluap!”
            Kunyahan mulutku berhenti seketika. Aku tidak berani merunduk dan melihat apa yang ada di tanganku.
            Jika Mbok Ndari sudah meninggal dua minggu yang lalu, jadi siapa yang setiap pagi buta mengiriskan gethuk, memarutkan kelapa dan menaburkan sambal di atas gethuk dan memberikan kepadaku di tikungan ini. Dan apa yang aku masukkan ke dalam perut melalui kunyahan mulutku selama dua minggu ini??!!
            Aku terdiam, tak berani bergerak, sekalipun itu mataku. (arms)
                        (bluePen 2.08 am, 62703102)

#Tiga Per Empat Halaman