WELCOME to the Dance Floor of bluePen - Let me be your ARmS to hug You with My ARtS

Pages

Wednesday, April 22, 2015

BlackBerry Messanger (BBM) Nggak Bisa di-Klik???

BlackBerry Messanger (BBM) Nggak Bisa di-Klik???

(Oleh: Atho' R.M Sasmito)


ADA Banyak tips di internet yang menawarkan tips tentang "Bagaimana Cara Mengatasi Icon BB Tidak Bisa Di-Klik?".0000

Paling banyak tips menyebutkan untuk mencoba mematikan hape dulu, cabut Sim Card kemudian coba dihidupkan kembali. Setelah nyala, coba di-klik logo BBM. Kalau masih belum bisa diklik atau dibuka, coba kembali matikan hape-nya dan masukkan kembali chip Sim Card, kemudian hidupkan kembali.

HASILNYA??? Masih belum bisa dibuka????
Ada BBM Masuk Tuh...Siapa Hayoww??



SUDAH Lama juga arms tidak up-date di blog ini (Curhat... :D ) Postingan kali ini sekedar tips sederhana, dari pengalaman beberapa waktu yang lalu bingung Icon BB tidak bisa diklik atau dibuka, bahkan di BlacBerry World tidak bisa dihapus juga. Rasanya kudu banting HP, ada BB tapi gga bisa dibuka. Apalagi lebih dari 2x24 jam...hemmm..

Sebab musabab kenapa Icon BB tidak bisa dibuka, jujur arms kurang paham. Soalnya gaptek...heheheee....yang penting BB bisa dipakai. Ini nih tips bagaimana mengatasi Icon BB tidak bisa dibuka:

- Yang pertama, arahkan cursor ke BlackBerry World,  kemudian klik Logo BlacBerry di samping tombol tengah. Pilih menu HAPUS.... Yapsss... langkah pertama hapus dulu BlackBerry World.
Ini Logo BlackBerryWorld...Bukan SHIELD-Nya Captain America lohh :D

- Sudah hilang kan, logo BlackBerry World -nya? 

- Sekarang buka Browser dan klik www.blackberry.com atau cari di Mbah Google :Download BlackBerry World.

- Download kembali BlackBerry World.

- Sukses download BlackBerry World? Sekarang download lagi aplikasi BlacBerry Messengger
(BBM) dan hapus aplikasi yang lama.

- INSYAALLAH, BBM sudah bisa kembali dibuka. :)

Terlalui ruwet Tips-nya?????

TIPS SIMPEL:
1. Hapus BlackBerry World... Ok??

2. Download lagi BlackBerry World lewat browser... Bisa??

3. Download aplikasi BBM lewat BlackBerry World... Sheep!!!

Simpel kannnn????? Heheheee...

Itulah sekedar berbagi Tips Why BBM Icon Couldn't Click or How tow Open BBM Icon Trouble... Monggo. :)                                                                                          [armsbluepen_51020422_9321]

Sunday, July 20, 2014

Aku, Mereka dan Hari Bahagia
(Oleh: Atho' R.M Sasmito)


Aku, Mereka dan Sebuah Hari Bahagia
Jalan besar itu terkenal paling sepi di kotaku. Meskipun jalan itu lebar, namun a\spal selalu mulus jarang ada perawatan dengan penambalan ataupun pelebaran. Sepanjang jalan itu selalu sepi setiap harinya, adapun kendaraan yang lewat hanya ada satu atau dua, itu pun dalam jangka waktu yang lama.

Rumah-rumah yang ada di tepi sepanjang jalan itu rata-rata berlantaikan dua megah, dengan pagar menjulang dilengkapi kawat berduri di atasnya. Komplek rumah-rumah itu menjadi kawasan elite di kota kecil tempatku tinggal.

Hampir setiap hari aku melewati rumah-rumah megah itu dengan mengayuh becakku di jalur tengah jalan. Setiap kali aku melintas, selalu ku perhatikan deretan rumah-rumah di sana. Meskipun megah dengan taman yang rapi dan bersih, namun di sepanjang jalan itu di masing-masing rumah tak kujumpai seorang pun. Seperti tak ada kehidupan, sepi dan sunyi.

Setiap kali aku melintas, selalu berfikir aku pasti akan lebih kaya dari mereka seandainya setiap hari satu rumah aku satroni. Pasti dengan barang yang ada di luar rumah saja jika aku kumpulkan dan aku jual, hasilnya pasti bisa membangun rumah seperti mereka.

Setiap kali aku berpikir seperti itu, aku teringat kembali dengan istri dan 4 anakku yang masih kecil. Walaupun aku hanya mampu mencari nafkah dengan mengayuh becak setiap hari, dengan sandal dari ban bekas, celana jeans warna memudar, kaos partai politik berbeda setiap harinya dan topi usang menutupi kepala, namun aku mampu menciptakan kebahagiaan apapun untuk diriku sendiri. Waktu berkumpul bersama anak-anak dan istriku adalah harta yang paling besar dan tak ternilai yang aku miliki. Aku sadar, bahagia itu sederhana.

Terlepas dari itu semua, jalan lebar dengan aspal mulus dan sepi tenyata ada satu masa saat jalan itu penuh sesak. Bukan penuh dengan lalu lalang kendaraan, namun penuh sesak dengan kumpulan orang-orang sepertiku dan juga para gembel, serta ibu-ibu yang berdesak-desakan tak peduli anak yang mereka gendong menangis terjepit, jatuh bahkan terinjak. Seperti yang terjadi juga tahun ini.

Ternyata, para pemilik rumah-rumah mewah yang sepi itu membentuk sebuah komunitas kaum elite. Setiap tahun, beberapa hari menjelang hari raya, mereka dalam komunitas kaum elite membuat kaum alit (kecil/rakyat biasa) jadi sebuah hiburan tersendiri hingga mereka bisa tertawa terbahak-bahak menyaksikan pertunjukan dari kaum alit.

Komunitas kaum elite tersebut mengumpulkan tak ada dari sebagian harta mereka untuk dibagikan kepada kaum alit. Dari sebanyak 26 rumah megah yang ada di sepanjang jalan lebar itu, terkumpul entah berapa angka nol di belakang angka 9. Dari dana yang terkumpul mereka belikan mie instan beras dan minyak goreng kemasan, yang lebih mengherankan kenapa juga ditambah dengan telur.

"Ayo Kang cepetan, entar nggak kebagian," teriak Kang Samin dengan semangat mengayuh becaknya yang berderit mendahuluiku.

"Iya Kang, tapi mungkin sampai malam juga nggak habis-habis Kang," balasku tersenyum melihat semangatnya menggebu.

"Terserah kamu Kang, kabarnya tahun ini ada tambahan amplopnya juga di dalamnya, luamayan buat tambahan apalagi kalau dapat lebih," teriaknya sembari lebih semangat lagi mengayuh becaknya.

Di belakang Kang Samin, rombongan pengayuh becak mulai memenuhi jalan aspal yang lebar. Mereka menuju ke kerumunan orang-orang yang sudah berdesak-desakan menuju panggung yang didirikan di tengah-tengah jalan kawasan rumah-rumah mewah.

Aku hanya tersenyum mengikuti apa yang mereka lakukan. Segera kutepikan becakku dan aku gembok rantai dengan jari-jari roda belakang becakku. Aku bergegas menyusul kerumunan orang-orang yang berdesak-desakan dengan tangan kanan menjulur ke depan dan tangan kiri di depan dada, mencoba menyisir dalam kerumunan.

Aku berada ditengah-tengah kaum alit. Lebih dari dua jam belum juga aku bisa mencapai panggung yang ada di tengah. Matahari tepat berada di atas kepala kaum alit. Dari ujung jalan yang ada di belakangku hingga ujung jalan yang ada jauh di depanku penuh dengan kepala-kepala kaum alit. Kepala dengan tangan tengadah dari dua arah terus begerak menuju panggung yang ada di tengah. Di atas panggung itu, kumpulan orang-orang elite tertawa terbahak-bahak.

Mereka puas menyaksikan pertunjukan dari kaum alit yang berebut paket bingiksan sembako berupa 3 kg beras, 4 bungkus mie instant, 1 liter minyak goreng kemasan, 4 butir telur, kabarnya juga ada tambahan amplop di dalamnya yang berisi 20 ribu rupiah.

Di dalam kerumunan kaum alit, ternyata mereka yang sudah mendapat jatah masih banyak yang tetap ikut berdesak-desakan mengambil tambahan. Petugas keamaan dari Polres, Satpol PP hingga Hansip seakan hanya sebagai pemanis belaka.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa mereka dari komunitas kaum elite telah membayar petugas keamanan, tapi bukan untuk mengamankan, melainkan membiarkan agar tetap lancar terselenggaranya hiburan dari kaum alit. Selain itu, mereka juga sudah memberikan beberapa juga untuk pantia-panitia zakat, agar tetap aman statusnya menyelenggarakan hiburan yang hanya ada satu tahun sekali, di bulan yang seharusnya orang lebih banyak puasa dalam berbagai hal.

Bisa jadi satu hari di bulan puasa, menjadi hari bahagia kaum alit dan elite. Bahagianya kaum alit karena mendapatkan paket sembako plus uang, sedangkan kaum elite bahagia melihat pertunjukan seru dari kaum alit.

"Loh Kang, kamu juga ikut?" tanya adik iparku yang tinggal sekitar 45 km dari kota.

"Setiap tahun kan aku ikut. Lha kamu kenapa sampai jauh-jauh ikut juga?" tanyaku heran, masih tetap mempertahankan posisi dalam desak-desakan kaum alit.

"Selama satu minggu ini aku mendengar di radio adanya pembagian ini, makanya sejak habis subuh tadi aku langsung berangkat," ucapnya terdengar samar-samar ditelan kerumunan yang semakin sesak. Ia pun juga menghilang di antara kaum alit.

Aku mulai berpikir, memang hebat para kaum alit untuk membuat kebahagiaan mereka. Tapi tak mengapa, aku juga bahagia. Bahagiaku sederhana. Mendapatkan bingkisan dalam pembagian yang dipenuhi lautan manusia itu merupakan sebuah prestise tersendiri buatku. Aku pun kembali bersemangat berusaha membelah himpitan orang-orang yang ada di depanku.

Kaum alit yang berkumpul seakan tidak ada habisnya, justru semakin banyak dan sesak. Ibu-ibu banyak yang terjepit dan pingsan, anak-anak kecil menangis mencari ibunya, beberapa bahkan terinjak-injak, para pengayuh becak sepertiku juga berjuang sekuat tenaga, ada juga yang memanfaatkan kakinya yang kuat untuk mendorong orang-orang di depannya. Panggung sudah semakin dekat.

"Plok!!!"

Tiba-tiba sesuatu mendarat di atas kepalaku. Bau busuk menyengat diiringi dengan lendir putih bercampur kuning kecoklatan menetes dari atas kepalaku, turun melewati depan mataku dan turun di atas bibir jatuh ke kaosku yang berwana putih.

Ku layangkan pandanganku ke atas panggung. Di sana kaum elite tertawa terbahak-bahak dengan peti-peti telur disampingnya. Mereka mengambil telur-telur busuk dari dalam peti dan melemparkannya ke bawah, yakni para kaum alit yang berebut paket sembako yang diberikan oleh panitia dari dalam pagar besi.

Suasana panas matahari di atas kepala, kerumunan kaum alit, ditambah aroma  busuk membuat kepalaku menjadi pusing, pandanganku pun mulai kabur.

"Tuhan! Turunkanlah hujan yang deras untuk kami kaum alit dan lemparkanlah halilintar ke arah panggung yang diduduki kaum elite," ucapku geram memegangi kepalaku yang terasa semakin berat.

BUGGG!!!

(bluePen, 2213_61704102)

*) Penulis Novel Sheraiser Bojonegoro

#Muat di www.blokBojonegoro.com Minggu, 20 Juli 2014, 08.00 WIB
http://blokbojonegoro.com/read/article/20140720/aku-mereka-dan-sebuah-hari-bahagia.html


#Ayo kirimkan Karyamu ke; blokbojonegoro@gmail.com

Monday, December 30, 2013

Pembalasan Si Sapi


Pembalasan Si Sapi
(Oleh : Atho' R.M Sasmito)
AKU Tak tahu kenapa Tuanku lebih suka menyebut diriku Sapi dari pada nama asliku sendiri. Mungkin karena bentuk tubuhku sendiri kalau dilihat-lihat dan diimajinasi memang sekilas tampak seperti sapi. Tapi entah apapun alasan Tuanku memanggilku Sapi, yang jelas aku merasa berbeda dibandingkan tunggangan-tunggangan yang lain.

 Pertama kali aku dibawa kepada Tuanku sekitar satu tahun yang lalu. Saat itu aku berdebar-debar untuk bertemu dengannya. Aku tiba di rumah siang hari Jumat, menanti-nati seperti apa orang yang nanti akan menunggangiku ke manapun ia ingin pergi. Sampai sore hari aku mendengar katanya ia pulang larut malam karena lembur. Aku pun semakin penasaran dengannya, dan aku yakin ia di sana juga sudah nggak sabar ingin berkenalan dan menunggangi diriku.

 Keesokan harinya, aku mulai berkenalan dengan Tuanku. Ternyata Tuanku masih muda dan cakep, wahhh pasti tambah membuatku menjadi semakin keren. Tuanku mulai mengajakku berkenalan.

 “Wah Sapiku sudah bangun, ayo pemanasan dulu sebelum jalan-jalan," ucapnya seraya terseyum ramah kepadaku.

 "Siap Tuan. Kemanapun Tuan pinta, saya siap melayani," ucapku seperti Jin dalam lampu yang ditemukan Aladin.

 Ternyata perkenalan pertama, aku tahu Tuanku orangnya sangat hati-hati dan pengertian kepadaku. Buktinya ia tahu bagaimana memperlakukanku, kalau biasanya orang-orang malas selalu menjewer telinga agar bangun pagi hari, terus diajak berlari langsung, namun Tuanku berbeda. Ia mengelus pinggangku untuk membuatku bangun, setelah itu ia membiarkan aku melakukan pemanasan dua sampai tiga menit, selanjutnya ia mengajakku keliling desa.

 “Mantap! Setelah sekian lama akhirnya bisa juga aku menunggangimu," puji Tuanku sesampainya di rumah.

 Beberapa saat ia, Tuanku itu, tampak bersemangat untuk siap-siap membawaku ke tempat kerjanya.

 Aku tak tahu kenapa, entah setan Sapi jenis apa yang telah mengotori pikiran Tuanku, sehingga ia lebih memilihku untuk mengabdi kepadanya daripada yang lain. Padahal, masih banyak yang lebih keren daripada aku. Ada Si Macan Putih yang iklannya berlari di salju, ada juga Si Harimau yang udah lebih dulu fenomenal dari aku, yang lebih keren juga yang namanya seperti pendekar dari jepang warnanya hijau pasti bikin cewek-cewek pada pengen ditunggangi...ups diboncengin.

#Bayangkan Kalau ini Si Besar Warna Hijau dengan Ban Kayak Donat...Hmmmm...Nggak Banget!!!

 Yang aku tahu dari curhatan Tuanku, sejak sekitar 2 tahun sebelum aku datang, Tuanku sangat tergila-gila dengan pesona dari kaum-kaumku. Setiap ada saudaraku yang lewat pasti diliriknya, bahkan juga sampai dibuntuti sambil terbayang nikmatnya nenunggangiku. Bahkan saking gilanya, ia mengoleksi gambar-gambar saudaraku, dan mengedit fotonya ada di atas punggung saudaraku, benar-benar gila. Dan hari-hari menjelang kedatanganku, ia mencari-cari informasi tentang kekurangan dan kelebihanku, serta bagaimana cara memeliharaku agar tetap sehat dan siap untuk digembalakan dimanapun tempatnya.

 Hari ini tepat satu tahun aku setia menemani Tuanku. Banyak pengalaman yang aku rasakan bersamanya. Di antaranya, tepat seminggu kehadiranku di rumahnya, Nyonya Besar alias Ibu dari Tuanku jatuh dari tempat tidur dan dilarikan ke rumah sakit. Selama itu juga aku tak bisa merasakan saat-saat yang indah bersama Tuanku, karena pikirannya kacau, kegembiraan yang seharusnya ia rasakan bisa menikmati aku tak bisa aku rasakan. Di bulan pertama, aku tak bisa membahagiakan Tuanku.

 Sekarang, di hari ulang tahunku, aku telah banyak berkelana dan berpetualang dengan Tuanku. Kalau pada umumnya dalam satu tahun normalnya rata-rata tunggangan menempuh jarak 12.000 km, tapi itu tidak berlaku untukku. Di usiaku tepat satu tahun ini, bersama Tuanku aku telah mencapai 20.000 km. Dan yang lebih mengherankan, aku jarang diajak ke luar kota. Seingatku hanya dua kali ke luar kota, yakni sekitar bulan April lalu aku diajak ke Mojokerto, dan beberapa minggu kemarin aku baru dari Bromo, dengan oleh-oleh badanku lecet dan tandukku sedikit bengkong.


#Si Sapi Mejeng sama Kuda Bromo  :D

 Walaupun baru dua kali atau tepatnya tiga kali ke luar kota, yakni juga pernah ke Cepu, paling tidak itu juga sudah keluar dari kota, namun hampir semua tempat di  semua sudut arah mata angin di kabupaten ini pernah aku singgahi, bahkan pernah sampai ke sebuah desa di ujung kabupaten ini yang aku yakin belum ada satupun Sapi pernah ke sana. Berbagai medan juga pernah aku jejaki dengan tapakku yang lebar ini. Mulai dari aspal mulus, jalan berbatu dan berdebu, lumpur yang licin, juga jalan berbatu di tengah hutan yang tidak lazim untuk dilalui oleh spesies sepertiku. Maka tak mengherankan, meskipun jarang ke luar kota, namun aku telah menempuh 20.000 km dalam satu tahun hanya melibas jalanan di kota ini. Itu semua karena tanggung jawab Tuanku berkunjung di berbagai tempat di kabupaten ini, sesuai dengan hobinya yang suka keluyuran.



#Ribuan Kilo Jalan yang Kau Tempuh, Syalalalalalalaaaaa....

 Namun akhir-akhir ini aku agak kurang fit karena perlakuan Tuanku. Minggu kemaren hampir seminggu bengawan solo meluap dan mengakibatkan banjir. Rumah Tuanku yang berada di bantaran sungai memang tidak kebanjiran, namun jalan yang harus ku tempuh untuk keluar dari desa harus menerjang banjir di jalanan.

 Di hari pertama banjir, aku dipaksa Tuanku untuk menerjang banjir yang sudah sampai dadaku. Setelah berjuang keras mendengus-dengus dengan keras akhirnya aku bisa melewati banjir itu. Sesampainya di rumah aku hela nafas panjang untuk istirahat.

 Banjir di hari ke-dua, Tuanku lebih nekat, pagi hari setelah pemanasan aku tak diberinya minum, padahal tenagaku sudah diperas kemarin, akibatnya ketika aku menerjang jalan yang sama, tepat di tengah banjir aku ambruk kehabisan tenaga. Tuanku mencoba menjewer untuk membangunkanku, namun tak berhasil. Kemudian ia mulai menggenjotku di tengah banjir, mau tak mau dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada aku bangkit kembali dan mendengus-dengus dengan suara memekakkan telinga ketika menerjang banjir.

 Dan di hari ke tiga, ia tak berani lagi mengajakku lewat jalan yang sama, karena ia juga bisa merasakan kondisiku kurang fit.

 "Hari ini aku tidak akan memaksamu lagi Sapi, hari ini kita break dulu, aku tahu kamu pasti sangat kecapekan gara-gara banjir," katanya tersenyum sambil memandikanku.

 Aku sedikit bernafas lega mendengarnya, paling tidak aku bisa sedikit merenggakngkan otot-ototku, dua hari banjir benar-benar menguras tenagaku.

 Namun kelegaanku berubah ketika Tuanku tiba-tiba menerima pesan dari handphonenya dan dengan segera ganti pakaian.

 "Maaf Sapi, hari ini ada tugas mendadak. Ayo temani aku ekspedisi bantaran sungai bengawan solo," ucap tuanku.

 "Hahhh! Aku capek, butuh istirahat," gumamku kecewa.

 "Aku janji, hari ini tidak akan memaksamu seperti kemarin, aku rela terjun langsung nanti, daripada melibatkanmu berendam bersamaku," janjinya seraya tersenyum kepadaku.

 Dengan lesu, aku merelakan punggungku untuk ditunggangi Tuanku dan berangkat menuju desa-desa di bantaran sungai bengawan solo.

 Setelah melalui berbagai desa, Tuanku memang tidak melanggar janjinya, ia mencari jalan agar aku tidak menerjang banjir. Namun karena aku benar-benar lelah, akhirnya aku ngambek dan tidak mau lagi diajak jalan. Ku lihat Tuanku mulai bimbang.

 "Waduh, kenapa sih kamu ngambek? Aku kan nggak ngajak kamu menerjang banjir lagi. Ayo donk bangun, tugasku belum selesai nih," kata Tuanku cemberut.

 Sampai tengah hari aku masih ngambek, aku benar-benar capek. Tapi ku lihat langit mulai gelap, aku merasa kasihan pada Tuanku yang sedang menjalankan tugasnya. Setelah dirayu-rayu, akhirnya aku luluh, tapi bukan karena rayuan, melainkan aku kasihan sebentar lagi hujan pasti turun. Aku pun bangkit, dan Tuanku bersorak kegirangan. Kita pun melanjutkan perjalanan.


#Melintasi Sungai Bengawan Solo

 Tapi ternyata Tuanku mengingkari janjinya, meskipun ia sudah bertanya pada orang dan melarangnya, namun ia tetap memaksaku menerjang banjir lebih parah. Aku benar-benar sewot dibuatnya, apalagi sepanjang perjalanan pulang hujan deras tak membuat Tuanku peduli kepadaku.

 Kemarin tepat di Hari Natal, akhirnya dendamku pada Tuanku terbalaskan atas penderitaan yang aku alami. Ketika pagi hari aku pemanasan, ia mengolesiku dengan minyak, begitu ia lengah, kugigit telunjuknya hingga ujungnya hancur. Pagi itu rumahnya menjadi ramai, lantaran para tetangga berdatangan melihat apa yang terjadi.

 Di dekat sumur tua samping rumah, ia dikerumuni oleh tetangga, ujung telunjuknya hancur oleh gigitanku hingga tampak tulang kecil warna putih di antara darah merah segar yang terus menetes ke lantai. Dan akhirnya ia dibawa ke rumah sakit di pagi hari yang gerimis itu.

 Sesampainya di rumah, aku tersentak mendengar bahwa ujung telunjuknya terancam amputasi. Aku tak menyangka sampai segitunya akibat dari gigitanku.

 Maafkan aku Tuan, setidaknya dengan begini aku bisa lebih banyak waktu untuk istirahat. Dan kamu, aku yakin tahu bagaimana memanfaatkan waktu luangmu.


#Sapinya Nuakallll... :(




 bluePen, 8164_72213102



#Dimuat Minggu, 29 Desember 2013 di : http://blokbojonegoro.com/read/module/20131229/pembalasan-si-sapi.html

Kirimkan juga Karyamu ke Email : blokbojonegoro@gmail.com
Cerpen tayang setiap hari Minggu.

Sunday, December 22, 2013

+1 IBU Hari Ini Selama 1 Jam, Aku Ingin Mengajak Ibu Jalan-Jalan ke Kota


KEINGINANKU Sangat sederhana, aku ingin mengajak ibu jalan-jalan ke kota.

Tepat satu tahun yang lalu, tepatnya hari Jumat (21-12-2012), pada hari yang diprediksi bakal terjadi kiamat ini, aku seperti mengalami kiamat kecil dalam hidupku. 

Pagi itu masih bisa ku rasakan hangatnya mentari dan sejuknya udara pagi, namun seperti ada yang kurang pada pagi itu. Biasanya sejak subuh ibu sudah sibuk di dapur, beres-beres rumah, membersihkan pekarangan, atau menyiram tanaman, namun hingga matahari mulai meninggi tak juga ku lihat sosok yang biasa menyiapkan segelas susu hangat tanpa gula untukku setiap pagi.

Ketika selesai mandi, seperti ada bisikan yang memaksaku berlari menuju kamar ibu. Sesampainya di kamar beliau, ku dapati tempat tidur ibu berantakan. Dan yang membuatku seperti tersambar petir pagi hari, ketika ku dapati ibu tergelatak kaku dan pandangan mata yang kosong di lantai sudut kamar, dengan posisi kepala 180 derajat dari bantal di atas kasur. Segera aku bopong dan ku bawa ke ruang tengah untuk menyadarkannya dan memberikan minum. Setelah itu tetangga mulai berdatangan dan ibu segera dilarikan ke rumah sakit.

Bagiku,  ibuku adalah wanita paling perkasa yang pernah aku temui. Semua pekerjaan di rumah ia jalankan. Mulai dari bekerja di sawah, mencangkul ladang, membersihkan rumah dan pekarangan, bahkan pernah menyulap hutan bambu menjadi sawah yang subur untuk ditanamai. Selain itu, ibu juga punya agenda bulanan, yakni ia biasa mengayuh sepeda mini warna merah miliknya ke kota, mengambil pensiunan almarhamum bapak di kantor pos, setelah itu ia pasti bersepeda keliling kota dan berbelanja di pasar kota, dan itu selalu dijalaninya dengan gembira.

Sejak aku duduk di bangku SMK hingga aku menyandang gelar sarjana, aku selalu menyempatkan waktu untuk menjemput ibu di pasar dan membawakan barang belanjaannya. Kadang aku merasa sangat berdosa ketika ku ingat-ingat lagi saat telat menjemput ibu di pasar dan bertemu di jalan. Ketika ku angkat 2 buah kardus yang dibonceng di belakangnya, beratnya mencapai 25 kg, berisi gula, minyak dan susu kaleng, beserta barang belanjaan yang lain. Bagaimana bisa aku membiarkan ibu yang lebih tua dari usia negara ini mengayuh sepeda dengan barang bawaan seberat itu, sampai-sampai roda sepeda tampak bergoyang ketika berputar.

Ibuku yang sekarang, bukanlah ibuku yang dulu. Sejah peristiwa satu tahun yang lalu, ibu terkena stroke, badan sebelah kanannya lumpuh. Namun setelah menjalani 3 bulan terapi, hingga sekarang alhamdulillah sudah bisa berdiri dan berjalan, meskipun tampak seperti diseret. Selama satu tahun ini, setiap hari ibu hanya menghabiskan waktu di dalam rumah untuk makan dan tidur, kalaupun jalan-jalan paling jauh hanya di teras depan rumah.

Aku ingin mengajak ibu jalan-jalan ke kota, melihat ramainya taman kota dan menyapa orang-orang di pasar yang pasti sudah sangat merindukannya. Meskipun sangat sederhana, setidaknya aku ingin selalu melihat bulan sabit di bibirnya.(arms)


bluePen, 6512_22213102